
Ditengah terik sengatan matahari ketika sinar matahari tepat berada di atas kepala. dibawah pojok lampu merah Perempatan Kota Baja duduk seorang laki-laki berpakaian lusuh denga mangkuk ditangannya, sesekali laki-laki itu mengangkat mangkuk yang ada ditangannya sambil menggeser-geser kakinya yang kiri yang tidak bisa diluruskan dan tidak seukuran kaki pada orang-orang seusia nya, ia cacat. Laki-laki itu bernama Malang.
Malang sendiri tidak pernah tau kenapa ibunya memberinya nama malang. apakah karena ia terlahir dengan kondisi fisik seperti itu, atau yang lainnya. yang jelas kenapa ibu tidak memberi nama mujur bukan malang sehingga sesekali nanti ia mendapatkan kemujuran. bukan kemalangan yang membuatnya sampai saat ini duduk dilampu merah dengan mengharap belas kasihan orang.
" Tuan,, kasihanilah aku..."
" Alhamdulillah....." ketika beberapa uang lembaran ribuan jatuh di mangkuk yang dipegangnya.
Hal itu ia lakukan setiap hari, pergi pagi pulang malam, ia pergi diangkat oleh Anak buah dari Bos Pengemis yang ada di Kota itu, ia tak bisa apa-apa, hanya terkadang ia merasa sedih, kenapa Ibunya membuang Malang ketika ia kecil, apakah karena ia cacat sehingga ibunya merasa malu memiliki seorang anak catat sepertinya.
" Malang, kenapa setorang hari ini sedikit sekali " dengan tatapan mata seperti burung elang yang hendak menerkam mangsanya. Bosnya berteriak, tepat di depan Malang.
Malang tak banyak bicara. dari sudut matanya keluar butiran-butiran air, bak embun terkana mentari....
" Kenapa kami menangis malang "
" Aku tidak mau kami cengeng seperti itu "
" aku hanya ingin kami bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi, agar aku bisa makan enak "
tanpa rasa iba Bos pengemis itu, terus saja memarahi Malang.
lagi-lagi malang hanya diam.
Ketika malam tiba,, ketika teman-teman pengemis dan bos nya tertidur lelap.
ia mencoba untuk keluar dari rumah Bos pengemis itu.
Bukan untuk kabur, tapi ia berniat untuk mengakhiri hidupnya.
ia sengaja berada di tengah jalan.
sambil menangis, Malang berteriak kencang.
" Tuhan,,,, Apa salahku, hingga kau hukum aku seperti ini "
" Aku tidak kuat tuhan...."
Tidak beberapa lama kemudian melintas sebuah mobil Kijang Innova warna putih.
Ciiiiiiiiiitttttt......
Suara Rem terdengar dan mobil seketika itu berhenti tepat di depan kepala Malang.
dari Mobil itu keluar seorang laki-laki berpakain rapih,
" wahai pengemis apa maksudmu kau berada di tengah jalan " Kata Laki-laki berpakai rapih tadi.
" Aku hendak bunuh diri "
"karena tidak ada orang yang perduli dengan aku "
Tiba-tiba laki-laki itu mengingat sesuatu,, ia terdiam,,, tiba-tiba ia menangis,,, ia ingat ia pernah membuang anak nya yang cacat karena merasa malu terhadap tetangga nya. tanpa terasa mata nya berkaca-kaca.
Lalu ia datangi pengemis itu.
" Siapa namamu "
" Namaku malang " kata pengemnis itu
" Malang,,, benarkah kau malang ..."
" ia aku malang..."
" Malang.... "
laki-laki berdasi itu malang.
" Malang maafkan ayah, ayah telah banyak berdosa padamu "
" Maafkan kesalahan Ayah "
Ternyata Malang adalah anaknya. Malang seorang anak pengusaha Batik, yang membuangnya karena rasa malu terhadap tetangganya. karena ia terlahir dengan kondidi fisik cacat.







